Rabu, 29 Desember 2021

Pengertian Data Primer & Perbedaannya dengan Data Sekunder




Sebagai alat bantu mencari hasil sebuah riset, peneliti membutuhkan data primer. Jenis data ini seringkali disandingkan dengan data sekunder. Sudah tahu artinya? Pengertian data primer adalah data utama dalam sebuah penelitian.

Pengertian data primer sedikit berbeda dengan data sekunder. Keduanya juga memiliki fungsi dan karakteristik masing-masing. Simak kelanjutan penjelasan lengkap tentang apa itu data primer, perbedaan dengan data sekunder, dan contohnya pada ulasan di bawah ini.


Pengertian Data Primer

Hampir pada setiap penelitian Anda bisa menemukan jenis data primer. Data ini berfungsi untuk membantu Anda sebagai peneliti dalam mencari jawaban dari rumusan masalah yang telah disusun. Data primer adalah bisa peneliti langsung dapatkan dari objek riset.


Pengertian Data Primer Menurut Para Ahli

Umum digunakan dalam penelitian, ada beberapa pengertian data primer menurut para ahli yang perlu untuk Anda ketahui. Berikut sejumlah pendapat mereka.

Sugiyono (2016), pengertian data primer menurut Sugiyono adalah sebuah data yang langsung didapatkan dari sumber dan diberi kepada pengumpul data atau peneliti. Ada pula pendapat menurut Sugiyono, sumber data primer adalah wawancara dengan subjek penelitian baik secara observasi ataupun pengamatan langsung.

Sanusi (2012), menurut Sanusi data primer adalah suatu data yang pertama kali dikumpulkan serta ditulis peneliti.

Danang Sunyoto (2013), arti data primer adalah data yang asli dan dikumpulkan sendiri oleh peneliti sebagai alat jawab rumusan masalah penelitian.


Fungsi

Fungsi utama data primer adalah menyelesaikan rumusan masalah riset. Selain itu masih ada fungsi lainnya seperti bahan evaluasi peneliti atau organisasi. Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Dasar Jawaban Rumusan Masalah

Sebuah data bisa digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan, begitu juga dengan hasil dari rumusan masalah sebuah penelitian. Pada poin ini, fungsi data primer adalah menjadi dasar jawaban sebuah rumusan masalah agar bisa lebih valid. 

2. Sumber Evaluasi

Jika riset yang Anda lakukan mengangkat topik yang sekiranya berhubungan dengan organisasi atau perusahaan, data primer adalah data yang bisa Anda gunakan juga untuk bahan evaluasi organisasi. Dengan menerima feedback langsung dari sumber data, selain menjadi jawaban riset bisa Anda gunakan untuk kaca evaluasi.

3. Acuan Perencanaan

Setelah melakukan evaluasi, pasti ada upaya-upaya perbaikan. Data primer adalah data yang bisa Anda gunakan juga sebagai acuan perencanaan upaya perbaikan yang akan dilakukan. Dengan begitu perbaikan bisa lebih efektif.


Perbedaan Data Primer dan Sekunder

Masing-masing dari  kedua jenis tersebut punya ciri dan karakteristik sendiri yang berbeda sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain. Perbedaan data primer dan sekunder juga bisa dilihat dari teknik dan sumber pengumpulan datanya. Penjelasan selengkapnya bisa Anda temukan dalam poin-poin di bawah ini.


Karakteristik Data Primer dan Sekunder

Sebelum mengetahui perbedaan data primer dan sekunder dari segi teknik pengumpulan, kenali karakteristik kedua data tersebut terlebih dahulu.


Data primer

Data primer adalah asli. Seperti pengertian data primer menurut Sugiyono yang menyatakan bahwa data tersebut diberikan langsung dari sumbernya, sehingga dipastikan bahwa data tersebut murni 

Informasi ‘pertama’. Hal tersebut dikarenakan pengumpulan data dilakukan pertama kalinya dalam penelitian.

Valid dan akurat. Data primer adalah data yang cenderung selalu berkembang setiap waktu, sehingga dalam pengumpulannya data yang didapat bersifat updated.

Data mentah. Ciri khas ini disebabkan karena sumber data primer adalah pihak yang memberi informasi secara langsung dan belum diolah.


Data sekunder

Data sekunder adalah data yang sudah diolah terlebih dahulu dan baru didapatkan oleh peneliti dari sumber yang lain sebagai tambahan informasi. 

Beberapa sumber data sekunder adalah buku, jurnal, publikasi pemerintah, serta situs atau sumber lain yang mendukung.

Ciri kedua dari data sekunder adalah sumbernya yang berasal dari peneliti sebelumnya. Jadi, peneliti hanya mencari data tambahan dari sumber yang sudah dibuat oleh orang lain.

Data sekunder juga bersifat kurang spesifik dan tidak punya kontrol dalam riset yang dibuat. Lagi-lagi hal ini karena peneliti mendapatkan data dari sumber lain saja dan mengandalkan interpretasi.

Teknik Pengumpulan Data Primer dan Sekunder

Pada dasarnya, teknik pengumpulan data primer dan sekunder kurang lebih sama. Peneliti perlu mendatangi sebuah sumber data untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam riset mereka. Lalu apa bedanya?


Data Primer

Sumber data primer adalah responden atau objek penelitiannya langsung. Sehingga peneliti bisa terjun mengamati dan menulis jawaban langsung dari objek penelitian.

Data primer bersifat utama, sehingga keberadaannya wajib untuk membantu memecahkan rumusan masalah. Data primer adalah data yang bisa Anda dapatkan dengan beberapa cara misalnya kuesioner, wawancara langsung, atau survei.


Data Sekunder

Berbeda sedikit dari pengertian data primer, data sekunder adalah data yang diambil dari sumber lain oleh peneliti. Biasanya data-data ini berupa diagram, grafik, atau tabel sebuah informasi penting seperti sensus penduduk. Data sekunder bisa Anda kumpulkan melalui berbagai sumber seperti buku, situs, atau dokumen pemerintah.


Contoh Data Primer dan Sekunder

Sebagai dasar menentukan jenis data apa yang akan diambil, Anda bisa menyesuaikan dengan topik riset. Misalkan Anda akan melakukan riset bisnis terkait keberhasilan pemasaran produk, maka contoh data primer dari feedback yang diberikan pelanggan produk perusahaan Anda.

Untuk mendapatkan jawaban mereka, lakukanlah observasi langsung atau sebarkan kuesioner yang berisi pertanyaan seputar tingkat keberhasilan pemasaran produk yang didasari teori komunikasi pemasaran.

Sementara itu, sebagai pelengkap penelitian Anda juga bisa mencari data sekunder. Jenis data yang satu ini bisa diambil melalui respons pelanggan yang diliput oleh media atau misalkan dari survei-survei kecil yang dilakukan oleh peneliti lainnya.

--

Itu tadi ulasan lengkap Populix tentang apa itu data primer hingga perbedaannya dengan data sekunder. Data primer adalah data yang hampir selalu muncul dalam penelitian, namun dengan adanya data sekunder bisa menjadi pelengkap. Anda hanya perlu menyesuaikan penggunaannya dengan kebutuhan riset.

Pengetahuan tentang data primer dan sekunder juga bisa Anda manfaatkan dalam melakukan riset bisnis. Gunanya adalah mengoptimalkan jangka panjang keberadaan perusahaan Anda. Lakukan riset bisnis dengan mudah dan praktis 

Trik Menghitung HOK Usahatani

 


HOK atau Hari orang kerja adalah satuan tenaga kerja yang digunakan biasanya dalam menghitung analisis usahatani. Pada umumnya HOK berjumlah 8 jam per hari yang telah dihitung dengan jam istirahat selama 1 jam di dalamnya.


Permasalahan yang umum terjadi dalam perhitugan analisis usahatani adalah penggunaan tenaga kerja biasanya menggunakan tenaga kerja anggota keluarga. Tidak ada pemisah antara waktu yang digunakan untuk “bekerja” dan waktu yang digunakan dalam urusan rumah tangga. Tidak seperti karyawan kantor atau pabrik yang jelas memiliki jam masuk kantor atau pabrik dan jam keluar kantor atau pabrik.

Hal ini yang menjadikan tantangan bagi peneliti untuk memperhitungkan secara tepat berapa biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja dalam analisis usahatani. Tak jarang jika petani menjawab dalam wawancaranya “ya… saya ngerjainnya sesempatnya aja pak, klo lagi longgar pagi pagi saya keladang”. Nah, klo sudah menjumpai hal yang seperti ini, jangan langsung tutup kuesioner dan balik kanan pulang ke kampus ya..


Rumus Umum Perhitungan HOK

HOK tergantung dari jumlah tenaga, kerja hari kerja, dan jam kerja perhari. Perkalian kesemua faktor tersebut kemudian dibagi 8 jam sebagai satu satuan HOK. Rumusnya menjadi sebagai berikut:

HOK = (∑ tenaga kerja x hari kerja x jam kerja perhari) / 8


Agar wawancara berjalan dengan efektif dan informasi yang diperoleh pun dapat berkualitas, maka perlu tehnik untuk menyiapkan konsep sebaik-baiknya. Adapun trik untuk menyiapkan konsep tersebut adalah:

Membuat rincian proses budidaya

Membuat rincian proses budidaya dari mulai pembajakan lahan hingga panen dapat membantu enumerator atau peneliti dalam menjaring informasi tetang HOK. Misalnya pada budidaya bawang merah, proses dipecah menjadi : pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama penyakit, pemeliharaan, penyemprotan, dan panen. Atau pada budidaya padi bisa dirinci dengan: pembajakan 1 dan 2, persemaian, penanaman, pemeliharaan pematang, pemupukan, pengendalian hama penyakit, dan panen.

Ketika petani ditanya fokus pertahapan budidaya, kemungkinan besar akan mudah mengingat berapa waktu yang telah ia gunakan untuk mengurus padi atau komoditas pertanian tersebut. Jika enumerator menemukan kebingungan dari petani, jangan sungkan untuk bertanya lebih lanjut. contohnya:

“berapa hari bapak melakukan pemupukan?”
“saya mupuk biasa dua kali” (ditanya hari tapi jawabnya kali)
“maksudnya dua kali pupuk ya pak”
“iya”
“pupuk pertama dikerjakan berapa hari pak?”
“saya kerjakan sama anak saya ga sampai sehari, sebentar saja”
“sebentarnya itu,.. dari jam berapa ke jam berapa pak”
“ya…berangkat jam 8 jam 11 sudah pulang”
“lalu pemupukan kedua pak?…. dst

Dari contoh percakapan diatas sudah mendapat informasi tentang pemupukan pertama yang dikerjakan 2 orang dengan waktu 3 jam. jadi totalnya adalah 6 jam kerja.

Jumlah ini nantinya digabungkan dengan tahapan budidaya selanjutnya sehingga terkumpul totalnya dan dibagi dengan 7 jam kerja. Mengapa 7 jam kerja? Karena yang kita hitung adalah jam efektif kerja. Angka 8 pada rumus sebelumnya sudah termasuk waktu istirahat selama 1 jam.


Menanyakan metode pembayaran upah.

Tidak semua tahapan budidaya dikerjakan oleh sendiri atau keluarga. Terkadang petani menggunakan tenaga mesin, borongan, atau istilahnya “gotong royong” dengan tetangga dan kerabatnya, dan bawon.

Cara menghitung HOK

Tenaga mesin dapat dijumpai misalnya pada tahapan pembajakan sawah. Mulai bajak pertama, kedua, hingga pembajakan terakhir biasanya petani mengeluarkan uang cash untuk membiayainya. Tanpa basa basi, langsung saja kita tanya berapa uang yang dikeluarkan untuk tahapan ini. Informasi yang diperoleh langsung pada point biaya tenaga kerja.

Sistem borongan juga sama dengan mesin, langsung ditanyakan berapa biaya yang keluar dalam menggunakan jasa borongan tersebut.

“gotong royong”. Ada yang  menyebutnya “babiran” dan lain sebagainya. Contoh pada jenis pembayaran tenaga kerja ini adalah saat menanam padi. Ada beberapa daerah yang belum menggunakan mesin dan mengerjakan tanam padi secara bersama sama. Jadi, dia mengajak rekan kerabatnya untuk menanam padi di sawahnya, sebagai imbalannya dia juga ikut membantu menanam padi di rekan-rekannya tersebut. Jadi mengerjakan tanam padi di kampungnya secara bersama sama (gratis, hanya menyediakan makanan saat giliran sawahnya ditanam). Dalam hal ini petani harus membayar tenaga rekannya dengan tenaganya sendiri. Rasa pegal dan capai tidak terasa karena semua dikerjakan bersama- sama. Cara menghitung HOKnya dapat dilakukan dua cara.


Cara pertama adalah menanyakan berapa orang yang ikut menanam saat giliran sawahnya ditanam tersebut dan berapa jam selesainya. Jika petani ingat berapa jumlahnya dan lamanya, maka selesai. Namun umumnya petani tidak akan mengingat sampai detil berapa orang yang terlibat apalagi spesifik saat sawahnya yang ditanam. Maka menggunakan cara kedua yakni berapa lama ibu/bapak ikut acara gotong royong tersebut, dan berapa jumlah keluarga bapak/ibu yang ikut kegiatan itu. Pertanyaan ini akan mudah diingat dan biasanya lebih banyak berhasil.


Sistem bawon. Biasanya digunakan petani saat panen. Upah yang dibayarkan untuk petani lain mengerjakan panen adalah sebagian dari hasil panen itu sendiri. Jumlah besarannya pun tergantung dari kebiasaan setempat. namun yang umum biasanya 9 berbanding 1. 9 bagian untuk pemilik sawah dan 1 bagian untuk pemanen (lebih gampang menyebutnya 10 persen untuk pemanen). Maka menghitung biaya tenaga kerjanya adalah dengan cara menanyakan berapa hasil panen yang diperoleh, kemudian dibagi 90% dan dikalikan 10%. Jangan lupa menanyakan harga jual padi terebut untuk mendapatkan total biaya kerja panen.

Tanaman semusim versus tanaman tahunan

Menanyakan atau mencari informasi tentang HOK yang digunakan pada tanaman musiman lebih membuat frustasi. Tentu kita tidak mungkin menanyakan proses penanaman dan pengolahan lahan yang mungkin telah dilakukan 8 tahun atau puluhan tahun yang lalu.

Berbeda dengan tanaman musiman yang masih dalam hitungan hari, atau setidaknya 3 bulan. Masih fresh dan biasanya suatu kerjaan yang dilakukan berulang. Petani hortikultura pun masih ingat kapan membeli pestisida, fungisida, lengkap beserta harganya.



Analisis usahatani pada tanaman tahunan biasanya menggunakan analisis parsial. Dalam analisis ini yang dihitung adalah margin peningkatan pendapatan terhadap peningkatan biaya yang dikeluarkan atau biasa dikenal sebagai MBCR (Marginal Benefit Cost Ratio).

Dalam MBCR yang dihitung adalah berapa kenaikan biaya yang dikeluarkan dan berapa kenaikan dari pendapatan setelah melakukan treatmen atau perlakuan tambahan. Misalnya petani menggunakan perilaku pemupukan infus akar. Dalam hal ini peneliti menanyakan berapa HOK yang dibutuhkan untuk melakukan pemupukan infus akar tersebut dengan luasan yang telah ditetapkan (nanti dikonversi ke hektar). ditambah dengan biaya biaya pembelian bahan, kemudian nanti akan memperoleh tambahan biayanya. Disebut tambahan biaya karena analisis ini parsial tidak menghitung biaya usahatani secara keseluruhan.

Dari sisi pendapatan, dihitung berapa kenaikan pendapatan pendapatan dari pendapatan sebelumnya yang tidak menggunakan perlakuan tersebut. Sehingga kenaikan pendapatan ini dibagi dengan kenaikan biaya yang dijelaskan diatas. Jika nilainya lebih besar dari 1 maka perlakuan tersebut dapat dikatakan menguntungkan dan layak diteruskan.

Dalam hal ini, saya menekankan bahwa perhitungan HOK dalam tanaman tahunan biasanya dilakukan parsial, tidak menjelaskan secara keseluruhan. Namun, jika analisis yang dilakukan adalah analisis kelayakan usaha, maka perlu dilakukan dari tahapan awal hingga tahapan akhir, itupun biasanya menggunakan asumsi.



Jangan lupa menanyakan upah harian

Upah harian (satu hari) dianggap sebagai upah harian HOK. Dalam menghitung biaya tenaga kerja, tentu komponen ini diperlukan dengan cara mengalikan HOK dengan upah hariannya.

Mengapa upah harian perlu ditanyakan? Karena upah harian berbeda beda tergantung dari lokasi dan inflasi dan UMR di tempat penelitian. Jadi jangan langsung mencarinya dengan mengkonversi dari UMR. Pertanyaan simple untuk menanyakan upah harian ini adalah “pak/bu, biasanya orang bekerja satu hari disini, dibayar berapa?”

Upah harian ini tidak melulu untuk tenaga kerja pertanian, bisa saja kita menanyakan upah harian tukang bangunan, tukang ledeng, atau tukang kebun. Biasanya besarannya tidak jauh berbeda.

TENAGA KERJA DALAM USAHA TANI


Bukan Fiksi 
Catatan seorang yang BAHAGIA
TENAGA KERJA DALAM USAHA TANI

Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang tergantung pada musim. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehigga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk.

Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usaha tani keluarga (family farms), khususnya tenaga kerja petani bersama anggota keluarganya. Rumah tangga tani yag umumnya sangat terbatas kemampuannya dari segi modal, peranan tenaga kerja keluarga sangat menentukan. Jika masih dapat diselesaikan oleh tenaga kerja keluarga sediri maka tidak perlu mengupah tenaga luar, yang berarti menghemat biaya.

Baik dalam  usahatani keluarga maupun perusahaan pertanian peranan tenaga kerja belum belum sepenuhnya diatasi dengan tekologi yang menghemat tenaga (teknologi mekanis). Hal ini dikarenakan selain mahal juga ada hal-hal tertentu yang memang tenaga kerja manusia tidak dapat digantikan.

A. Karakteristik Tenaga Kerja dalam Usahatani

Tenaga kerja dalam usahatani memiliki karekteristik yang sangat berbeda dengan tenaga kerja di bidag usaha lain yng selain pertanian. Karakterisik menurut Tohir (1983) adalah sebagai berikut:

Keperluan akan tenaga kerja dalam  ushatani tidak kontinyu dan tidak merata.
Penyerapan tenaga kerja dalam usaha tani sangat terbatas.
Tidak mudah distandarkan, dirasioalkan, dan dispesialisasikan.
Beraneka ragam coraknya dan kadang kala tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Karakteristik diatas akan memerlukan sistem-sistem menejerial tertentu yang harus dipahami sebagai usaha peningkatan usahatani itu sendiri. Selama ini khususnya di Indoesia sistem menejerial bisanya masih sangat sederhana.
 
B. Peran Petani
Tenaga kerja usahatani keluarga bisanya terdiri atas petani beserta keluarga dan tenaga kerja dari luar yang semuanya berperan dalam usaha tani. Menurut Mosher (1968) petani berperan sebagai manajer, juru tani, dan manusia biasa yang hidup di dalam  masyarakat. Petani sebagai manajer  akan berhadapan dengan berbagai alternatif yang harus diputuskan mana yang harus dipilih untuk diusahakan. Petani harus menentukan jenis tanaman atau ternak yang akan diusahakan, menetukan cara-cara pembelian sarana produksi, menghadapi persoalan tentang biaya, mengusahakan permodalan. Untuk itu, diperlukan ketrampilan, pendidikan, dan pengalaman yang akan berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam keyataannya untuk memilih usaha apa yang akan dilakukan, terdapat kompromi antara bapak dan ibu tani. Hal tersebut penting dalam penyuluhan. Jika ingin yang disuluhkan dapat mengena maka pendekatanya adalah kepada keduanya, yaitu bapak dan ibu tani.
Petani sebagai anggota masyarakat yang hidup dalam suatu ikatan keluarga akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Disamping itu, petani juga harus berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat atas diri dan keluarganya. Sebaliknya, petani juga membutuhkan bantuan masyarakat disekelilingnya. Besar kecilnya kebutuhan bantuan terhadap masyarakat disekelilingnya tergantug pada teknologi yang digunakan dan sifat masyarakat setempat. Dalam praktiknya, peranan-peranan tersebut saling tekait, tetapi pasti ada salah satu yang menonjol. Sebagai contoh, pada suatu daerah tidak terdapat jenis komoditas a, b, dan c padahal sebetulnya sangat cocok dengan iklim dan jenis tanah  setempat dan harganya pun tinggi. Setelah diteliti ternyata komoditas a, b, dan c tersebut tidak umum diusahakan, bahkan tabu bagi daerah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa peranan petani sebagi manajer sangat lemah, tetapi peranan petani sebagi anggota masyarakat sangatlah menonjol.
 
 
C. Tenaga Kerja Keluarga dan Luar Keluarga
Peranan anggota keluarga yang lain adalah sebagai tenaga kerja di samping juga tenaga luar yang diupah. Banyak sedikitnya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam usahatani berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman yang diusahakan. Banyak sedikitnya tenag luar yang dipergunakan tergantug pada dana yang tersedia untuk membiayai tenaga luar tersebut.
Ada beberapa hal yang membedakan antara tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar atara lain adalah komposisi menurut umur, jenis kelamin, kualitas, dan kegiatan kerja (prestasi kerja). Kegiatan kerja tenaga luar sangat dipengaruhi sistem upah, lamanya waktu kerja, kehidupan sehari-hari, kecakapan, dan umur tenaga kerja.
1.      Sistem upah
Sistem upah dibedakan menjadi 3 yaitu upah borongan, upah waktu, dan upah premi. Masing-masing sistem tersebut akan mempengaruhi prestasi seorang tenaga luar.
a)      Upah borongan adalah upah yang diberikan sesuai dengan perjanjian antara pemberi kerja dengan pekerja tanpa memperhatikan lamanya waktu kerja. Upah borongan ini cederug membuat para pekerja untuk secepatya menyelesaikan pekerjaanya agar segera dapat mengerjakan pekerjaan borongan lainya. Contohnya borongan menggarap lahan sawah sebesar Rp. 150.000 per petak sawah
b)      Upah waktu  adalah upah yang diberikan berdasarkan lamanya waktu kerja. Sistem upah waktu kerja ini cenderung membuat pekerja untuk memperlama waktu kerja dengan harapan mendapat upah yang semakin besar. Contohnya upah pekerja untuk menggarap sawah sebesar Rp. 25.000/HKO. Jika dia bekerja selam lima hari maka upah yang diterima sebesar Rp. 125.000.
c)      Upah premi adalah upah yang diberikan dengan memperhatikan produktivitas dan prestasi kerja. Sebagai contoh, dalam satu hari pekerja diharuskan menyelesaikan 10 unit pekerjaan. Jika dia bisa menyelesaikan lebih dari  10 unit maka dia akan mendapatkan upah tambahan. Sistem upah premi cenderung meningkatkan produksivitas pekerja.

2.      Lamanya waktu kerja
Lamanya waktu kerja seseorang dipengaruhi oleh seseorang tersebut. Seseorang yang tidak dalam keadaan cacat atau sakit secara normal mempunyai kemampuan untuk  bekerja. Selain itu, juga dipengaruhi oleh keadaan iklim suatu tempat tertentu. Misalnya, wilayah tropis seperti Indonesia, untuk melakukan aktivitas lapangan seperti petani tidak dapat bertahan lama karena cuaca panas.

3.      Kehidupan sehari–hari
Kehidupan sehari-hari seorang tenaga kerja dapat dilihat pada keadaan makanan/ menu dan gizi, perumahan, kesehatan, serta keadaan lingkunganya. Jika keadaanya jelek dan tidak memenuhi persyaratan maka akan berpegaruh negatif terhadap kinerja.

4.      Kecakapan
Kecakapan seseorang menentukan kinerja seseorang, seseorang yang lebih cakap tentu saja prestasinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang kurang cakap, kecakapan ditentukan oleh pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman.

5.      Umur tenaga kerja
Umur seorang menentukan prestasi kerja atau kinerja seorang tersebut. Semakin berat pekerjaan secara fisik maka semakin tua tenaga kerja akan semakin turun pula prastasi tenaga kerjanya. Namun dalam beberapa hal tanggung jawab semakin tua umur tenaga kerja tidak akan berpengaruh karena justru semakin berpengalaman. Semantara itu untuk tenaga kerja keluarga karena tidak diupah, tingginya prestasi kerja dipengaruhi oleh  yang paling utama yaitu besarnya kebutuhan keluarga disamping faktor-faktor yang lain.
Besarnya prestasi kerja tenaga kelurga dipengaruhi oleh perbandingan antara besarnya konsumen dalam keluarga dalam keluarga dengan jumlah tenaga kerja  yang tersedia. Hal tersebut dapat dihitung dengan cara sebagai berikut.
Dimana:
K =  kegiatan/ prestasi kerja
P =  konsumen/  pemakai
T = tenaga kerja
Jika semakin tinggi P (kebutuhan kelurga) dengan T (tenaga kerja) tetap maka keluarga tersebut harus bekerja lebih lama (K naik). Dalam  kenyataan (seperti terlihat dalam tabel 3.1)  dengan adanya pertambahan tenaga kerja keluarga, jumlah jam keluarga yang dicurahkan untuk bekerja justru menunjukkan penurunan (kolom 5). Kecenderungan ini disebabkan keputusan keluarga untuk bekerja, ditentukan oleh besarnya kebutuhan keluarga (kolom 6). Begitu jumlah kebutuhan terpenuhi (ekuivalen 21 jam/ hari), meskipun dalam keluarga terjadi pertambahan persediaan tenaga kerja (pada saat umur perkawinan 15 tahun), jumlah tenaga per keluarga yang dicurahkan untuk bekerja besarnya tetap.
Dipandang dari segi kebijaksanaan makan dengan mendorong naik kebutuhan keluarga diharapkan petani akan bersedia untuk bekerja lebih lama sehingga tidak saja pendapatan keluarga akan meningkat tetapi juga produksi secara keseluruhan akan naik.
Kebutuhan keluarga ekuivalen dengan 21 jam/hari/keluarga. Jika telah terpenuhi makan lamanya kegiatan kerja akan menurun. Tambahan tenaga kerja keluarga seharusnya disalurkan untuk intensifikasi maupun kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan dengan pertanian (off farm activities) bila lahan usahataninya terbatas. Dengan demikian, total pendapatan  yang diperoleh keluarga akan lebih tinggi daripada keadaan semula. Pada kenyataaan yang terjadi di Indonesia, para petani tidak mempertahankan jam kerja yang tinggi. Semakin banyak tenaga kerja keluarga semakin kecil jam kerja per tenaga per hati padahal sebetulnya mampu lebih dari itu. Dengan demikian maka timbul adanya pengangguran yang tidak kentara (disquised unemployment).

TABEL  3.1.   HUBUNGAN ANTARA JUMLAH KONSUMEN, TENAGA KERJA, DENGAN KEGIATAN KERJA KELUARGA PETANI

No.

Umur (th)

P

T

K

Lamanya Bekerja

(jam/hari/tenaga)

Lamanya Bekerja

(jam/hari/keluarga)

 

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1

0

2

2

1

3

6

2

3

3

2

1,50

4,5

9

3

6

4

2

2

6

12

4

9

5

2

2,50

7,5

15

5

12

6

2

3

9

18

6

15

7

2

3,50

10,5

21

7

18

7

2

2,30

7

21

8

21

7

2

1,75

5,25

21

9

24

7

2

1,40

4,2

21

10

27

7

2

1,16

3

21

11

30

7

2

1

3

21

            Keterangan:     

P          = pemakai/ konsumen dalam suatu keluarga

T          = tenaga kerja dalam suatu keluarga

K         = kegiatan/ prestasi kerja

Umur   = umur perkawinan suatu keluarga

 

D. Kebutuhan dan Distribusi Tenaga Kerja

Kebutuhan tenaga kerja dapat diketahui dengan cara menghitung setiap kegiatan masing-masing komoditas yang diusahakan, kemudian dijumlah untuk seluruh usahatani. Kebutuhan tenaga kerja berdasarkan jumlah tenaga kerja keluarga yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhannya. Berdasarkan perhitungan maka jika terjadi kekurangan maka untuk memenuhinya dapat berasal dari tenaga luar keluarganya.

Satuan yang sering dipakai dalam perhitungan kebutuhan tenaga kerja adalah man days  atau HKO (hari kerja orang) dan JKO (jam kerja orang). Pemakaian HKO kelemahannya karena masing-masing daerah berlainan (1 HKO di daerah B belum tentu sama dengan 1 HKO di daerah A) bila dihitung jam kerjanya. Sering kali dijumpai upah borongan yang sulit dihitung, baik HKO maupun JKO-nya.

Banyaknya tenaga kerja yang diperlukan untuk mengusahakan satu jenis komoditas per satuan luas dinamakan Intensitas Tenaga Kerja. Intensitas Tenaga Kerja tergantung pada tingkat teknologi yang digunakan, tujuan dan sifat usahataninya, topografi dan tanah, serta jenis komoditas yang diusahakan.

  1. Tingkat teknologi yang digunakan

Penerapan teknologi biologis dan kimia umumnya lebih banyak dibutuhkan tenaga kerja untuk pemakaian bibit unggul disertai dengan pemupukan dan pemberantasan hama penyakit. Sementara penerapan teknologi mekanis, seperti pemakaian mesin-mesin dan traktor justru dapat lebih menghemat kebutuhan tenaga kerja.

  1. Tujuan dan sifat usahatani

Tujuan usahatani dan sifat usahatani juga sangat mempengaruhi jumlah kebutuhan tenaga kerja. Contoh halnya, usaha tani komersial yang sudah memperhatikan kualitas dan kuantitas dari segi ekonomi, akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dari pada usahatani subsistence.

  1. Topografi dan tanah

Teknik pengolahan lahan di daaerah datar dengan jenis tanah ringan akan memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit dibanding pengolahan tanah di daerah miring dan berat.

  1. Jenis komoditas yang diusahakan

Jenis komoditas juga menentukan jumlah tenaga kerja. Pada umumnya tanaman semusim lebih banyak membutuhkan tenaga kerja daripada tanaman tahunan. Hal ini tergantung pada intensitas pengolahan tanah dan saat tanam. Pada tanaman semusim lebih banyak membutuhkan tenaga kerja bantuan sehingga sering kali tidak dapat diselesaikan sendiri oleh tenaga kerja keluarga. Namun saat pemeliharaan pada tanaman semusim cenderung membutuhkan sedikit tenaga kerja. Bahkan sampai tenaga kerja keluarga yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena memmang tidak adanya pekerjaaan sehingga timbul pengangguran musiman. Pengangguran musiman sebenarnya masih dapat diatasi dengan cara sebagai berikut:

    1. Cropping system, untuk meningkatkan intensitas penggunaan tanah dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak untuk merawat lebih dari satu tanaman dalam satu lahan;
    2. Menggunakan teknologi yang membutuhkan bantuan tenaga kerja;
    3. Diversifikasi vertikal, melaksanakan sendiri semua proses produksi dan pemasaran;
    4. Off-farm activity; dan
    5. Transmigrasi yang terarah pada diversifikasi tanaman pangan.
  1. Efisiensi tenaga kerja

Efisiensi tenaga kerja atau produktivitas tenaga kerja dapat diukur dengan memperhatikan jumlah produksi, penerimaan per hari, dan luas lahan atau luas usaha.

    1. Memperhitungkan produksi

Produktivitas yang berhubungan dengan tenaga kerja dapat dihitung melalui jumlah produksi per hektar dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang dicurahkan per hektar. Perhitungan produktivitas akan membandingkan antara usaha yang dibantu dengan mesin traktor dengan usaha yang tanpa menggunakan bantuan mesin traktor. Jika tidak menggunakan traktor maka jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan semakin banyak, sehingga pembaginya akan menjadi semakin besar dan nilai produktivitas akan semakin kecil. Tetapi jika memanfaatkan bantuan mesin traktor maka tenaga kerja yang dibutuhkan akan semakin sedikit sehingga pembagi jumlah produksi per hektar akan semakin kecil sehingga memperoleh nilai produktivitas yang lebih besar. Hal ini justru akan semakin meningkatkan efisiensi tenaga kerja.

    1. Memperhatikan penerimaan per hari kerja

Penerimaan per hari kerja dapat dihitung dengan formula, jumlah produksi fisik dikali harga per hektar dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang dicurahkan per hektar.

    1. Memperhatikan luas usaha per lahan

Efisiensi tenaga kerja dapat juga dihitung melalui luas usahatani dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang dicurahkan perhari.

  1. Efisiensi teknis, efisiensi perusahaan, dan efisiensi kemanusiaan

Selain efisiensi tenaga kerja, efisiensi teknis, perusahaan, dan kemanusiaan, juga dapat diperhitungkan dengan cara mebandingkan tambahan produksi yang akan diperoleh akibat dari tambahan faktor produksi yang diberikan untuk menghasilkan.

    1. Efisiensi teknis adalah mengukur besarnya produksi yang dapat dicapai atas tingkat faktor produksi tertentu. Efisiensi teknis contohnya melalui penggunaan pupuk urea untuk peningkatan produksi padi di lahan sawah dengan di lahan tegal maka akan didapat hasil penggunaan pupuk urea yang lebih efisien di lahan sawah dibandingkan di lahan tegal.
    2. Efisiensi perusahaan adalah mengukur besarnya nilai produksi yang dapat dicapai atas nilai faktor produksi tertentu. Contohnya dalam penggunaan pupuk urea 46% N dan pupuk ZA 20% N. Akan terlihat efisiensi penggunaan pupuk dari tingkat produksinya yaitu penggunaan pupuk urea 46% N lebih besar dibanding penggunaan pupuk ZA 20% N.
    3. Efisiensi kemanusiaan sulit diukur karena tambahan produksi yang dicapai diukur dengan kepuasan seseorang.
  1. Curahan tenaga kerja

Curahan tenaga kerja pada usahatani sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni:

  1. Faktor alam yang meliputi curah hujan, iklim, kesuburan tanah, dan topografi;
  2. Faktor jenis lahan yang meliputi sawah, tegal, dan pekarangan;
  3. Luas, petak, dan penyebaran.

Faktor-faktor tersebut menyebabkan adanya perbedaan kesibukan tenaga kerja, misalnya yang terjadi pada usaha tani lahan kering yang benar-benar hanya mengandalakan air hujan maka petani akan sangat sibuk hanya pada saat musim penghujan. Sebaliknya, pada musim kemarau akan mempunyai waktu luang sangat banyak karena lahannya tidak dapat ditanami (bero). Pada lahan sawah beririgasi, petani akan sibuk sepanjang tahun karena air bukan merupakan kendala bagi usahataninya.

  1. Arti intensif dan ekstensif

Usahatani dikatakan intensif jika banyak menggunakan tenaga kerja dan atau modal per satuan luas lahan. Contoh usahatani intensif adalah jika seorang petani menggarap tanah sesuai dengan kebutuhan sampai siap untuk ditanami jagung, menggunakan pupuk awal, bibit unggul, melakukan penyiangan dan pemupukan periodik. Tiga setengah bulan kemudian petani akan memperoleh hasil panen sekitar 12 kg per satuan luas lahan.

Sedangkan suatu usahatani dikatakan ekstensif jika usahatani tersebut tidak banyak menggunakan tenaga kerja dan atau modal per satuan luas lahan. Sebagai contoh adalah, jika seseorang menggarap tanah ala kadarnya, lalu menebar bibit, biji (untuk serealia). Setelah itu lahan dibiarkan aja. Tetapi tiga setengah bulan, petani juga sambil menunggu mendapat seluruh hasil panen dan diperoleh 2 kg per satuan luas lahan.

Acara TRIZFEST 2025

  Acara TRIZFEST 2025 Ibu Bapak yang berbahagia, berikut kami sampaikan agenda TRIZFEST hari kedua, Rabu, 12 November 2025. Berikut Rundown ...